AI Tak Gantikan Pengembang Crypto Dalam Waktu Dekat

AI Tak Gantikan Pengembang Crypto Dalam Waktu Dekat

Pasar kecerdasan buatan (AI) global diperkirakan akan mengalami pertumbuhan pesat, meningkat dari $214,6 miliar pada tahun 2024 menjadi $1.339,1 miliar di tahun 2030, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 35,7%.

Namun, di balik potensi ini, muncul kekhawatiran terkait dampaknya terhadap pasar tenaga kerja. Contohnya, kemampuan AI untuk menulis kode telah memunculkan pertanyaan tentang kemungkinan AI menggantikan peran pengembang manusia di masa depan.

Dampak AI pada Sektor Kripto

Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia kripto telah mengalami perkembangan pesat. Teknologi AI kini memainkan peran penting dalam perdagangan aset digital, menjalankan kontrak pintar, serta mengelola organisasi otonom terdesentralisasi (DAO) dengan efisiensi tinggi.

Advertisement

Kapitalisasi pasar yang terkait dengan agen AI juga menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa. Berdasarkan data dari CoinMarketCap, total valuasi pasar telah melampaui angka $13,5 miliar, mencerminkan minat dan investasi yang semakin besar dalam teknologi ini.

Lebih jauh lagi, inovasi dalam pengembangan agen AI terus berlanjut. Agen AI Level 3 telah diperkenalkan, menawarkan tingkat otonomi yang lebih tinggi serta kemampuan pembelajaran yang lebih canggih, mendekati fungsi kognitif manusia.

Akankah AI Menggantikan Pengembang Kripto?

Manthan Dave, salah satu pendiri kustodian aset digital Palisade, mengungkapkan kepada Cryptonews bahwa meskipun perkembangan dalam pengkodean berbasis AI sangat mengesankan, banyak aspek dari teknologi ini sering kali dilebih-lebihkan dan disalahpahami.

“AI kini sangat mahir dalam membangun aplikasi web standar. Jika Anda membutuhkan komponen React atau ingin membuat aplikasi CRUD sederhana, asisten AI dapat menghemat banyak waktu. Hal ini karena mereka telah dilatih menggunakan tumpukan kode serupa dari GitHub dan sumber lainnya,” jelas Dave.

Namun, Dave juga menyoroti kekurangan mendasar dalam data yang digunakan oleh AI, terutama dari GitHub. Ia menjelaskan bahwa pola dalam data tersebut sering kali menunjukkan bahwa AI tidak selalu mampu membedakan antara kode berkualitas tinggi dan kode yang hanya berfungsi secara teknis, tanpa mempertimbangkan aspek kualitas.

“Saya pernah mencoba menggunakan asisten AI untuk membuat aplikasi web uji coba sederhana. Memang, AI berhasil menciptakan UI dasbor dalam hitungan menit, tetapi implementasi otentikasi yang dihasilkan benar-benar mengkhawatirkan, terutama bagi para ahli keamanan. Pemahaman dan pengetahuan pengguna tetap diperlukan untuk menilai hasil kerja AI,” tambahnya.

Lebih jauh, Dave menekankan bahwa kompleksitas meningkat ketika membahas proyek-proyek kripto dan blockchain.

“Proyek semacam ini hanya mencakup bagian kecil dari basis kode yang ada di GitHub. Akibatnya, model AI menghadapi kendala data mendasar karena kurangnya contoh yang cukup melimpah,” jelasnya.

Meski begitu, Dave meyakini bahwa sistem AI saat ini masih jauh dari mampu menggantikan pengembang kripto secara menyeluruh dalam waktu dekat.

“Cobalah meminta AI untuk membantu implementasi jembatan lintas rantai atau kontrak staking yang kompleks. Anda akan segera terjebak dalam argumen yang berulang atau bahkan hasil yang sepenuhnya keliru,” pungkasnya.

AI Akan Membantu Pengembang Crypto Maju

Meskipun AI tidak akan menggantikan pengembang kripto dalam waktu dekat, teknologi ini memiliki potensi besar untuk mendorong berbagai kemajuan dalam industri.

Alastair Moore, mitra pendiri studio ventura Web3 The Building Blocks dan profesor AI di University College London, menyampaikan kepada Cryptonews bahwa peran pengembang kripto diproyeksikan segera bergeser. Mereka akan lebih fokus pada pengawasan tingkat tinggi, arsitektur kreatif, dan pengelolaan sistem AI.

Moore juga mengungkapkan bahwa AI mulai meningkatkan efisiensi kerja pengembang kripto dengan mengotomatiskan tugas-tugas yang sebelumnya memakan waktu. Sebagai contoh, alat seperti GitHub Copilot dan ChatGPT telah berkontribusi dalam menghasilkan kode Solidity dengan cepat sekaligus menjelaskan API Web3 secara lebih efisien.

Selain itu, teknologi seperti ChainGPT, yang didukung oleh AI, menawarkan kemampuan untuk memindai kontrak pintar secara cepat guna mencari potensi kerentanan. Sementara itu, chatbot berbasis model bahasa besar (LLM) membantu merampingkan dukungan pengembang serta memperkuat manajemen komunitas.

“Kemampuan untuk melakukan analisis terperinci terhadap tindakan on-chain yang kompleks terus berkembang berkat LLM,” ujar Moore. “Inovasi ini tidak hanya mengurangi jumlah bug, namun juga mempercepat penyebaran kode, sehingga pengembang dapat lebih fokus pada pengambilan keputusan desain yang kompleks dan menciptakan solusi inovatif.”

Andrew Hill, salah satu pendiri sekaligus CEO Recall Network, turut berpendapat bahwa meskipun AI tidak akan menggantikan pengembang kripto sepenuhnya, mereka yang mengabaikan potensi teknologi ini berisiko kehilangan relevansi di dunia kerja.

“AI adalah alat yang mampu melipatgandakan kemampuan pengembang. Pengembangan kripto tidak hanya berkaitan dengan kode, tetapi juga melibatkan desain protokol, insentif, dan tata kelola. Semua ini adalah tantangan manusiawi yang lebih baik ditangani oleh individu yang terbantu oleh AI, bukan oleh model kotak hitam,” jelas Hill.

Recall Network, sebagai jaringan intelijen terdesentralisasi, bertujuan memberdayakan agen AI otonom untuk menyimpan, berbagi, dan bertukar pengetahuan secara on-chain. Hill menekankan bahwa platform ini memungkinkan pengembang kripto untuk membuktikan kecerdasan mereka di tengah era AI yang terus berkembang.

Sebagai contoh, Hill menunjukkan bagaimana agen AI bersaing dalam mengoptimalkan strategi keuangan terdesentralisasi (DeFi), mendeteksi kerentanan, serta mengoordinasikan sistem multi-agen. Namun, ia menekankan bahwa keberhasilan ini tidak hanya bergantung pada pemanfaatan AI, tetapi juga pada validasi kinerja agen AI yang benar-benar efektif.

“Recall Network bertujuan menjadikan kinerja AI terbuka sebagai aset publik bagi seluruh ekosistem kripto,” pungkas Hill.

Tantangan yang Terkait Dengan AI dan Crypto

Meskipun AI berpotensi mendorong kemajuan dalam pengembangan kripto, berbagai tantangan masih harus diatasi.

Matej Janež, Kepala Kemitraan di Oasis Protocol, mengungkapkan kepada Cryptonews bahwa salah satu tantangan utama adalah menjaga prinsip desentralisasi dalam ekosistem kripto.

“Proyek kripto dan AI generasi pertama telah membawa inovasi dengan berbagai kasus penggunaan baru. Namun, perkembangan yang pesat juga sering kali disertai dengan kompromi terhadap desentralisasi,” ujar Janež.

Selain itu, memerangi bias dalam model AI menjadi tantangan yang terus berlanjut. Zac Cheah, salah satu pendiri Pundi AI, menjelaskan bahwa model AI yang kurang terlatih dapat menghasilkan keputusan yang tidak seimbang. Jika data pelatihan AI terbatas atau tidak beragam, risiko memperkuat bias yang ada menjadi semakin besar.

Sebagai solusi, Cheah menyarankan penggunaan kumpulan data yang lebih beragam serta penerapan proses validasi yang transparan untuk memastikan hasil yang adil. “Pendekatan terdesentralisasi juga dapat membantu mengatasi bias,” jelasnya. “Pundi AI, misalnya, sedang mengembangkan platform anotasi data AI yang terdesentralisasi. Platform ini memungkinkan pengguna berkontribusi dalam penandaan data sambil mendapatkan imbalan atas partisipasi mereka.”

Menurut Cheah, distribusi proses pengumpulan dan pelabelan data kepada kelompok yang lebih luas dan beragam berpotensi menciptakan model AI yang lebih seimbang dan inklusif.

Kony Kwong, CEO dan salah satu pendiri GAIB, menambahkan bahwa tantangan lain yang signifikan adalah kurangnya model AI yang dirancang khusus untuk analisis dan pengembangan kode kripto. “Teknologi blockchain memiliki sifat unik yang membutuhkan model AI khusus, yang saat ini masih dalam tahap awal pengembangan,” ungkap Kwong.

Kemitraan Antara Pengembang AI dan Crypto

Menghadapi berbagai tantangan ini, Moore meyakini bahwa para pengembang AI dan kripto perlu bergerak menuju kemitraan yang lebih kolaboratif di masa depan.

“Pengembang yang mampu memanfaatkan alat AI secara efektif akan meraih keunggulan besar dalam efisiensi, keamanan, dan inovasi, menciptakan ekosistem di mana AI mendukung kreativitas manusia, bukan menggantikannya sepenuhnya,” katanya.

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use
Advertisement