Gugatan tersebut menuduh Heart, yang nama aslinya Richard Schueler, mengumpulkan lebih dari $1 miliar melalui penawaran kripto yang tidak terdaftar.
Pengadilan Distrik AS telah menolak gugatan yang diajukan oleh Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) terhadap Richard Heart, pendiri Hex, dengan menyatakan bahwa lembaga tersebut tidak memiliki kewenangan atas dugaan tindakannya.
SEC menuduh Heart, yang bernama asli Richard Schueler, telah mengumpulkan lebih dari $1 miliar melalui penawaran kripto yang tidak terdaftar serta menggunakan $12,1 juta untuk kepentingan pribadi, termasuk membeli berlian hitam terbesar di dunia.
Namun, pada 28 Februari, Hakim Carol Bagley Amon memutuskan bahwa SEC tidak dapat membuktikan adanya kaitan langsung antara aktivitas Heart dan investor di Amerika Serikat.
Hakim Menetapkan Tidak Ada Yurisdiksi AS Terkait Tuduhan Pelanggaran Kripto
Hakim mencatat bahwa dugaan pelanggaran dilakukan melalui dompet digital dan platform kripto yang tidak memiliki keterkaitan langsung dengan Amerika Serikat.
“Penyalahgunaan yang diduga terjadi melalui dompet digital dan platform aset kripto, yang tampaknya tidak memiliki hubungan dengan Amerika Serikat,” ujar Amon dalam putusannya.
“Jika benar bahwa Heart menyalahgunakan dana investor melalui transaksi yang bersifat penipuan, semua tindakan tersebut dilakukan di luar yurisdiksi Amerika Serikat.”
Dalam pengaduannya, SEC mengklasifikasikan Hex (HEX), PulseChain (PLS), dan PulseX (PLSX) sebagai sekuritas yang tidak terdaftar.
Sejak keputusan tersebut diumumkan, ketiga token itu mengalami lonjakan nilai, dengan HEX naik 78%, PLS meningkat 36%, dan PLSX melonjak hingga 67%.
Heart menyambut baik keputusan pengadilan tersebut, menyebutnya sebagai kemenangan tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk komunitas kripto secara keseluruhan.
“HEX telah beroperasi dengan sempurna selama lebih dari lima tahun. Keputusan ini adalah kemenangan besar bagi para pendiri kripto dan proyek mereka melawan SEC, sekaligus memberikan harapan baru bagi seluruh ekosistem kripto,” tulis Heart dalam unggahannya di X pada 28 Februari.
Namun, meskipun kasus ini telah diberhentikan, proses hukum tampaknya belum selesai.
Hakim Amon memberikan SEC waktu 20 hari untuk merevisi dan mengajukan ulang pengaduannya, membuka kemungkinan adanya tindakan hukum lanjutan.
Di luar Amerika Serikat, Heart juga masih menghadapi sejumlah masalah hukum lainnya.
Polisi Finlandia Sita Jam Tangan Mewah Senilai $2,6 Juta dari Pendiri Hex
Pejabat Finlandia dilaporkan berhasil menyita koleksi jam tangan mewah senilai sekitar $2,6 juta yang diduga ditinggalkan oleh Schueler.
Schueler saat ini dicari di Finlandia atas tuduhan penggelapan pajak dan penyerangan. Namun, pihak berwenang masih menghadapi kesulitan dalam melacak keberadaannya.
Menurut Inspektur Harri Saaristola, yang memimpin penyelidikan, koleksi jam tangan tersebut berhasil dilacak melalui operasi intelijen. Beberapa jam tangan diketahui dibeli di Amerika Serikat, sementara sebagian besar didapatkan di Finlandia.
Schueler diduga terlibat dalam penggelapan pajak antara tahun 2020 hingga 2024 dengan nilai pajak yang belum dibayarkan mencapai ratusan juta euro.
Ia juga menghadapi tuduhan penyerangan terhadap seorang remaja berusia 16 tahun pada tahun 2021, insiden yang membuatnya masuk dalam daftar buronan paling dicari di Eropa.
Pada 22 Desember, Interpol mengeluarkan “Red Notice” untuk membantu mempercepat penangkapannya.
Meski menghadapi berbagai tuduhan, Schueler tetap aktif di dunia maya, menggunakan platform seperti X dan YouTube untuk mempromosikan HEX.